, ,

Makam Jaka Tingkir di Gedongan Sragen, Menyusuri Jejak Sejarah hingga Keraton Solo

oleh
oleh

SRAGEN, Tipikorinvestigasi.id – Sebuah foto lama yang diabadikan pada tahun 2017 kembali membuka kenangan perjalanan Pewarta Sumsel ketika menyambangi kawasan Makam Jaka Tingkir di Dusun Butuh, Desa Gedongan, Kecamatan Plupuh, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah.

Kala itu, perjalanan tersebut menjadi bagian dari upaya Pewarta Sumsel menelusuri sejarah dan budaya Jawa, khususnya jejak Jaka Tingkir atau Sultan Hadiwijaya, tokoh penting dalam sejarah Kesultanan Pajang yang kisahnya terus hidup dalam ingatan masyarakat hingga sekarang.

banner 336x280

Makam Jaka Tingkir berada di Dusun Butuh, Desa Gedongan, Kecamatan Plupuh, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah 57283. Lokasinya berjarak sekitar 16 kilometer dari pusat Kabupaten Sragen atau kurang lebih satu jam perjalanan dari Kota Solo, tergantung kondisi perjalanan.

Bagi masyarakat, kompleks makam tersebut bukan hanya tempat peristirahatan tokoh sejarah, tetapi juga menjadi salah satu tujuan wisata religi dan sejarah yang memiliki nilai budaya tinggi.

Jaka Tingkir, Sultan Hadiwijaya dan Kerajaan Pajang

Jaka Tingkir dikenal dalam sejarah Jawa sebagai Sultan Hadiwijaya, penguasa Pajang pada abad ke-16.

Pajang menjadi salah satu mata rantai penting dalam perjalanan sejarah kerajaan-kerajaan Islam di Jawa setelah Demak. Pada masa Sultan Hadiwijaya, Pajang berkembang sebagai pusat kekuasaan di wilayah pedalaman Jawa.

Nama Jaka Tingkir sendiri juga sangat dikenal dalam tradisi dan cerita masyarakat Jawa. Berbagai kisah tentang perjalanan hidup, keberanian dan perjuangannya diwariskan secara turun-temurun melalui cerita rakyat, tradisi lisan dan berbagai karya budaya.

Karena itu, membicarakan Jaka Tingkir bukan hanya membicarakan seorang tokoh kerajaan, tetapi juga membuka kembali salah satu babak penting perjalanan peradaban Jawa.

Sembilan Pusara di Cungkup Utama

Di kompleks Makam Sultan Hadiwijaya terdapat cungkup utama yang menaungi sembilan pusara. Makam Jaka Tingkir berada di bagian tengah, sementara makam lainnya berkaitan dengan kerabat dan orang-orang yang mempunyai hubungan dengan perjalanan hidupnya.

Kompleks tersebut juga memiliki daya tarik berupa sempalan perahu gethek berbahan kayu jati yang secara tradisi dikaitkan dengan Jaka Tingkir.

Keberadaan berbagai peninggalan dan cerita yang berkembang di sekitar kompleks makam membuat kawasan tersebut menjadi tempat yang menarik untuk mengenal sejarah sekaligus budaya masyarakat Jawa.

Dari Pajang Menuju Mataram

Sejarah Jaka Tingkir tidak berhenti pada Pajang.

Perjalanan sejarah Jawa kemudian berlanjut dengan berkembangnya Mataram Islam. Dalam rangkaian sejarah tersebut, Mataram tumbuh menjadi kekuatan baru dan kemudian mengalami perjalanan panjang hingga munculnya pusat pemerintahan di Kartasura dan akhirnya Surakarta.

Dari sinilah kita dapat melihat adanya mata rantai sejarah:

Demak → Pajang → Mataram → Kartasura → Surakarta.

Rangkaian tersebut berlangsung dalam kurun sejarah yang panjang dan melalui berbagai perubahan politik serta kekuasaan.

Jejak Sejarah hingga Keraton Solo

Penting untuk dipahami bahwa Jaka Tingkir bukan tokoh yang hidup pada masa berdirinya Keraton Surakarta.

Keraton Surakarta Hadiningrat atau Keraton Solo berdiri jauh setelah masa Jaka Tingkir, yakni pada abad ke-18. Namun, perjalanan sejarah Pajang yang dipimpin Sultan Hadiwijaya merupakan salah satu bagian dari mata rantai panjang sejarah kerajaan Jawa yang kemudian berkembang hingga Mataram dan Surakarta.

Keraton Solo kemudian menjadi salah satu pusat penting pelestarian budaya Jawa.

Berbagai tradisi seperti upacara adat, seni tari, gamelan, sastra Jawa, pusaka, wayang dan berbagai tradisi keraton terus diwariskan dari generasi ke generasi.

Dengan demikian, ketika kita mengunjungi Makam Jaka Tingkir di Sragen, kita tidak hanya melihat sebuah tempat pemakaman.

Kita sedang membuka kembali lembaran panjang perjalanan sejarah Jawa.

Catatan Perjalanan Pewarta Sumsel Tahun 2017

Foto yang diabadikan Pewarta Sumsel pada tahun 2017 kini menjadi sebuah dokumentasi perjalanan masa lalu.

Sebuah perjalanan yang mempertemukan jurnalistik dengan sejarah dan budaya.

Di tempat tersebut, Pewarta Sumsel tidak hanya melihat sebuah makam, tetapi juga mencoba memahami bagaimana sebuah nama besar seperti Jaka Tingkir tetap hidup dalam ingatan masyarakat.

Dari sebuah makam, kita dapat membaca perjalanan sebuah zaman.

Dari Pajang, sejarah bergerak menuju Mataram. Dari Mataram kemudian menuju Kartasura dan akhirnya Surakarta.

Semuanya menjadi bagian dari perjalanan panjang terbentuknya kebudayaan Jawa yang hingga kini masih dapat kita lihat dan rasakan.

Makam Jaka Tingkir, Warisan Sejarah yang Patut Dijaga

Kompleks Makam Jaka Tingkir di Dusun Butuh menjadi salah satu tempat yang penting bagi masyarakat yang ingin berziarah sekaligus mengenal sejarah.

Tempat tersebut juga menjadi pengingat bahwa sejarah tidak hanya tersimpan dalam buku-buku.

Sejarah juga hidup dalam makam leluhur, bangunan tua, pusaka, tradisi, cerita rakyat dan ingatan masyarakat.

Merawat tempat-tempat bersejarah berarti menjaga hubungan antara generasi masa lalu dengan generasi masa kini.

Dan bagi Pewarta Sumsel, mengabadikan perjalanan seperti ini merupakan bagian dari upaya sederhana untuk ikut merawat ingatan tersebut.

Alamat Lengkap Makam Jaka Tingkir

📍 Makam Sultan Hadiwijaya (Jaka Tingkir)
Dusun Butuh, Desa Gedongan, Kecamatan Plupuh, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah 57283.

Jarak: sekitar 16 kilometer dari pusat Kabupaten Sragen dan sekitar satu jam perjalanan dari Kota Solo.

Daya tarik: Cungkup utama dengan sembilan pusara, makam Jaka Tingkir di bagian tengah, makam kerabat dan sahabat, serta sempalan perahu gethek kayu jati yang dikaitkan dengan Jaka Tingkir.

Kunjungan: kompleks makam dikenal dapat dikunjungi setiap hari untuk kegiatan ziarah dan wisata religi.

Pewarta Sumsel

Catatan Perjalanan • Sejarah • Budaya Nusantara

Dokumentasi: Pewarta Sumsel — Makam Jaka Tingkir, Gedongan, Sragen, 2017.

banner 336x280

Tentang Penulis: Redaksi

Gambar Gravatar
Wartawan Asal Provinsi Sumatera Selatan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.