PALEMBANG , Tipikorinvestigasi.id – Di tengah hiruk-pikuk pembangunan dan gema janji kesejahteraan yang terus digaungkan, masih tersimpan kisah sunyi yang nyaris tak terdengar.
Sebuah realita pahit yang dialami oleh Asmina, seorang janda yang bertahan hidup dalam keterbatasan di RT 27 RW 05, Kelurahan Ogan Baru, Kecamatan Kertapati, Palembang, Rabu (29/04/2026).
Sudah tiga tahun lamanya berlalu, namun rumah yang dahulu menjadi tempat berteduhnya kini hanya tinggal kenangan.
Bangunan itu roboh dan tak lagi layak huni. Dinding yang runtuh, atap yang hilang, dan lantai yang terbuka lebar bukan sekadar gambaran kerusakan fisik, melainkan saksi bisu dari harapan yang perlahan memudar dan pudar ditelan waktu.
Sejak musibah itu terjadi, Asmina terpaksa menjalani hari-harinya dalam ketidakpastian.
Dengan ekonomi yang serba terbatas, ia tak memiliki daya upaya untuk memperbaiki tempat tinggalnya sendiri.
Setiap hari adalah perjuangan keras melawan terik matahari dan guyuran hujan, disertai rasa khawatir yang tak pernah benar-benar pergi.
Yang paling menyayat hati, selama tiga tahun ini belum ada sentuhan nyata atau perhatian serius dari pihak berwenang.
Harapan yang pernah ia gantungkan perlahan berubah menjadi tanda tanya besar. Apakah dirinya masih dianggap sebagai bagian dari rakyat yang berhak mendapatkan perlindungan dan keadilan.
Kisah Asmina bukan sekadar cerita tentang kemiskinan, melainkan cermin dari ketimpangan perhatian.
Di saat pembangunan terus merambah di berbagai sudut kota, masih ada warga yang tertinggal, yang suaranya tenggelam di antara gemuruh kemajuan yang tak menyentuh sisi kemanusiaan.
Dengan mata berbinar harap, Asmina menyampaikan permohonan tulus kepada pemerintah, bahkan hingga kepada Presiden Republik Indonesia, agar dapat melihat langsung kondisi yang dialaminya.
Ia tidak meminta kemewahan, hanya sebuah tempat tinggal yang layak, sebuah kebutuhan dasar yang seharusnya menjadi hak mutlak setiap warga negara.
Ke mana keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia Pertanyaan itu terucap lirih namun sarat makna, sebuah pertanyaan yang seharusnya mampu menggugah hati nurani siapa saja yang mendengarnya.
Kini, yang tersisa hanyalah doa dan harapan. Harapan agar kisah ini tidak berhenti sebagai cerita pilu semata, melainkan menjadi awal dari kepedulian dan tindakan nyata.
Karena di balik laporan pembangunan dan data statistik, ada manusia seperti Asmina yang masih menunggu untuk dilihat, didengar, dan dibantu.








