OGAN ILIR, Tipikorinvestigasi.id – Kondisi jalan penghubung Desa Rengas–Payaraman di Ogan Ilir menjadi sorotan tajam. Alih-alih menjadi simbol kemajuan, jalan ini justru menjadi “kolam lumpur” yang menyulitkan aktivitas warga sehari-hari.
Video warga yang berjoget di tengah kubangan lumpur viral di media sosial, menjadi sindiran pedas terhadap pemerintah daerah. Dua periode kepemimpinan dianggap gagal memberikan infrastruktur yang layak bagi masyarakat.
Budi Riskiyanto, aktivis LSM Gempita, menyampaikan kritik pedas terhadap kondisi ini.
“Kalau jalan saja tidak bisa diperbaiki, lantas apa yang dikerjakan selama dua periode? Masyarakat hanya meminta jalan layak, bukan keajaiban. Jika itu pun tidak mampu, lebih baik jujur: pembangunan ini untuk rakyat atau untuk kepentingan segelintir orang?”
Budi menambahkan, pemerintah terlalu fokus pada pencitraan dan melupakan realitas di lapangan.
“Rakyat butuh bukti, bukan baliho. Butuh jalan, bukan slogan. Jangan menyebut diri pahlawan pembangunan jika rakyat masih mengais rezeki di kubangan lumpur,” tegasnya.
“Ogan Ilir Bangkit”? Slogan yang Bertolak Belakang dengan Realitas
Slogan “Ogan Ilir Bangkit” kini menjadi bahan olok-olokan. Kondisi jalan yang memprihatinkan dinilai bertolak belakang dengan semangat kemajuan yang digaungkan.
Bagaimana bisa disebut bangkit jika roda ekonomi warga terhambat? Bagaimana bisa disebut bangkit jika aksesibilitas pendidikan dan kesehatan terganggu?
Jika yang bangkit hanyalah slogan dan citra politik, maka Ogan Ilir justru sedang ditertawakan oleh rakyatnya sendiri.








