MUARA ENIM, Tipikorinvestigasi.id – Di tengah lahan perkebunan sawit yang luas di Kecamatan Gunung Megang, muncul wujud baru kreativitas masyarakat dalam memastikan ketersediaan pangan.
Melalui konsep tumpang sari yang didukung penuh oleh Polsek Gunung Megang, lahan yang awalnya hanya menghasilkan komoditas ekspor kini juga menjadi sumber kehidupan bagi warga lokal, dengan penanaman jagung yang memperkuat kedua aspek: ketahanan pangan dan kesejahteraan ekonomi. Selasa (10/02/2026).
Kapolres Muara Enim AKBP Hendri Syaputra, S.I.K., melalui Kapolsek Gunung Megang AKP KMS Erwin, S.H., M.H., menekankan bahwa dukungan Polri terhadap inisiatif ini bukan hanya tentang pembangunan pertanian, tetapi juga tentang membangun kemandirian masyarakat.
“Pemanfaatan lahan sawit dengan sistem tumpang sari adalah bukti bahwa kita bisa mengoptimalkan potensi yang ada tanpa mengorbankan produktivitas tanaman utama.
Konsep ini membawa nilai ganda menjaga kelangsungan usaha perkebunan sekaligus memastikan bahwa setiap meter lahan berkontribusi pada ketersediaan pangan dan tambahan pendapatan bagi keluarga petani,” papar AKP KMS Erwin dengan penuh semangat.
Kegiatan Penanaman Jagung Serentak Kuartal I Tahun 2026 yang digelar pada Senin (09/02/2026) menjadi tonggak penting dalam gerakan ini. Acara berlangsung di kebun sawit milik Bapak Fredick Apliansyah, S.Pd., di Dataran Kehesek, Desa Penanggiran sebuah lokasi yang menjadi bukti nyata bagaimana inovasi pertanian bisa tumbuh di tengah lahan yang sebelumnya dianggap tidak mungkin untuk tanaman pangan.
Di lahan seluas kurang lebih 4 hektare, Kelompok Tani Berengit 1 menjalankan penanaman dengan penuh kebersamaan.
Menggunakan benih jagung berkualitas merk Maxxi sebanyak sekitar 45 kilogram, petani berharap hasil panen yang melimpah pada pertengahan Mei 2026 akan menjadi bukti bahwa kolaborasi dan kreativitas bisa mengubah wajah pertanian di daerah ini.
Hadir dalam acara tersebut bukan hanya jajaran Polsek Gunung Megang, tetapi juga Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Penanggiran yang dipimpin Lusi Suryadi, S.P., Kepala Desa Penanggiran Revi Widarno beserta perangkat desa, pemilik kebun, hingga seluruh anggota kelompok tani.
Kehadiran berbagai pihak ini mencerminkan bagaimana sinergi lintas sektor menjadi kunci keberhasilan program yang berdampak luas bagi masyarakat.
“Kita tidak bekerja sendiri dari penyuluhan teknis hingga dukungan keamanan dan koordinasi, setiap elemen berperan penting.
Ini adalah contoh bagaimana kerja sama yang solid bisa membawa perubahan nyata di lapangan,” ujar Lusi Suryadi, selaku koordinator BPP Penanggiran.
AKP KMS Erwin menegaskan bahwa dukungan Polri tidak akan berhenti di tahap penanaman semata.
“Kita akan terus mendampingi hingga masa panen tiba, bahkan membantu memastikan hasil panen bisa sampai ke tangan yang membutuhkan.
Sinergi antara Polri, pemerintah desa, penyuluh pertanian, dan kelompok tani ini bukan hanya untuk satu musim tanam, tetapi untuk membangun fondasi ketahanan pangan yang berkelanjutan bagi generasi mendatang,” tegasnya.
Program inovatif ini menjadi cermin harapan bagi daerah lain di Kabupaten Muara Enim bahwa optimalisasi lahan bukan sekadar tentang produktivitas, tetapi tentang memberikan makna lebih pada setiap ruang yang ada.
Di lereng Gunung Megang, lahan sawit kini tidak hanya menghasilkan komoditas, tetapi juga menjadi simbol kemandirian, kebersamaan, dan harapan akan masa depan yang lebih baik bagi seluruh masyarakat.(DW)








