MUARA ENIM, Tipikorinvestigasi.id – Proyek Pembangunan Daerah Irigasi (DI) Lematang, yang diberi label Proyek Strategis Nasional (PSN) dan dibiayai dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sejak 2016 hingga 2023, telah menghabiskan dana hampir Rp 900 milyar.
Namun, proyek yang direncanakan untuk mengairi persawahan seluas minimal 3.200 hektar dengan sumber air dari Sungai Lematang kini menjadi sorotan karena banyak pertanyaan dari masyarakat dan tokoh lokal.
Perencanaan proyek meliputi pembangunan waduk serta saluran irigasi primer, sekunder, dan tersier. Namun, kondisi topografi lahan yang sangat variatif dengan perbedaan elevasi hingga puluhan meter membuat masyarakat mengajukan pertanyaan besar terkait keberadaan persawahan seluas 3.200 hektar yang seharusnya terjangkau irigasi.
Mantan Kabareskrim sekaligus putra daerah Dataran Tinggi Basemah menyatakan bahwa data luas rencana daerah yang akan dialiri air melalui saluran drainase berpotensi fiktif.
Hal ini semakin memperkuat keraguan masyarakat terkait kelayakan dan transparansi proyek yang telah menggelontorkan dana besar tersebut.
Sementara itu, pegiat anti korupsi sekaligus putra daerah Basemah, Feri Kurniawan yang juga menjabat sebagai Deputy Koalisi Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI), menilai proyek ini merupakan bentuk akal-akalan yang membodohi masyarakat petani Basemah dengan dalih PSN.
“Rp 900 milyar dana yang di gelontorkan untuk PSN DI Lematang hanya untuk membuat saluran air atau drainase ukuran minimalis terasa menyesakkan dada,” ucap Feri dengan nada kesal.
Ia juga mengungkapkan kekhawatiran terkait potensi penyalahgunaan dana negara.
“Kalaupun di laporkan ke APH ada potensi atau mungkin sampai ke penindakan karena proyek PSN di labeli imunitas mencuri uang negara demi kepentingan atas nama rakyat,” paparnya.
Feri menambahkan bahwa kondisi ini membuat masyarakat semakin jenuh berurusan dengan lembaga hukum dan pemerintahan, karena seringkali mendapatkan kekecewaan.
“Sementara masyarakat sudah jenuh berurusan dengan hukum dan pemerintahan karena seringkali kekecewaan yang didapat,” pungkasnya. (Budi Rizkiyanto)








