JAKARTA, Tipikorinvestigasi.id – Proyek Strategis Nasional (PSN) pembangunan Drainase dan Bendung Lematang yang menggunakan anggaran APBN hampir Rp 900 milyar belum memberikan manfaat apa pun. Bangunan yang seharusnya mengairi 3.200 hektar persawahan di dataran tinggi Basemah tidak mampu menyuplai air bahkan untuk satu hektar lahan saja.
Pegiat anti korupsi Sumsel sekaligus ahli bangunan air asal Basemah, Ir. Feri Kurniawan, menyebut proyek ini sebagai bencana keuangan nasional dengan potensi kerugian negara yang signifikan. Ia menyatakan kondisi proyek ini mirip dengan kasus pembangunan Hambalang dan Masjid Sriwijaya yang juga terhenti dan tidak berfungsi.
Menurut Feri, masalah pada proyek ini kemungkinan disebabkan oleh kegagalan perencanaan yang berdampak pada kegagalan konstruksi. Selain itu, ia juga mengangkat dugaan adanya salah pelaksanaan, harga yang terlalu mahal, atau mark up pada perhitungan konstruksi.
“Perlu dilakukan audit secara detail terhadap setiap item bangunan yang sudah dibuat untuk mengetahui besaran potensi kerugian negara yang sebenarnya,” ujarnya.
Feri menambahkan bahwa proyek dengan label Strategis Nasional biasanya didampingi oleh APH. Oleh karena itu, diperlukan tekanan dari masyarakat dan pemerintah daerah untuk mengungkap kasus ini yang diperkirakan menyebabkan kerugian ratusan milyar rupiah. Namun, ia menduga akan sulit mendapatkan dukungan dari pemerintah daerah terkait. “Sangat sulit untuk mendapatkan dukungan karena kepala daerah tidak mungkin memiliki keberanian untuk mengungkapnya,” pungkasnya.








