Di Balik Jalur Darat dan Laut Perjalanan Jurnalistik dari Prabumulih ke Pulau Burung

oleh
oleh

Artikel Oleh Deni Wijaya

PULAU BURUNG,

banner 336x280

Minggu, 04 Januari 2026, pukul 20.00 WIB. Ketika sebagian besar warga Kota Prabumulih sudah memasuki waktu istirahat malam akhir pekan, saya sudah berada di Travel Tugu Kecil Kota Prabumulih.

Tas ransel yang penuh dengan kamera DSLR, beberapa baterai cadangan, catatan harian berlembaran, dan perlengkapan dasar sudah siap menemani perjalanan yang saya tahu tidak akan mudah.

Kali ini, saya tidak mengejar berita melalui jalur udara yang praktis, melainkan memilih jalan darat yang akan membawa saya melewati Kabupaten Pali, hingga ke Pelabuhan Tungkal di Tanjung Jabung Barat, Jambi, sebelum melanjutkan dengan perahu menuju Pulau Burung, wilayah Indragiri Hilir, Riau.

Hingga hari ini, saya masih berada di pulau ini untuk menggali lebih banyak cerita dari masyarakat lokal.

Travel berangkat tepat pada pukul 20.30 WIB sesuai jadwal yang telah ditentukan, menyusuri jalan yang mulai redup karena sebagian besar lampu jalan sudah dimatikan.

Rute dari Prabumulih ke Pelabuhan Tungkal melewati kawasan Kabupaten Pali, dengan jalan yang bergelombang dan seringkali menyusuri lereng bukit yang gelap gulita.

Kilatan lampu mobil yang jarang lewat menjadi satu-satunya sumber cahaya selain lampu depan travel.

Meskipun perjalanan berlangsung di malam hari yang sepi dan agak mengerikan, suasana yang tenang memberikan kesempatan bagi saya untuk merenung dan menyiapkan diri menghadapi berbagai cerita yang akan saya temui.

Setiap jeda singkat di warung makan malam pinggir jalan bukan hanya untuk mengisi perut dengan soto atau mie ayam hangat, tetapi juga kesempatan untuk berbincang dengan penduduk lokal – salah satu kebiasaan saya sebagai wartawan untuk menangkap nuansa daerah yang saya lewati.

Pada salah satu jeda di Kecamatan Pali Selatan, saya berbincang dengan Pak Amin, pemilik warung yang telah berjualan di sana selama lebih dari sepuluh tahun.

“Jalan ini biasanya ramai sekali pada malam hari kerja, karena banyak kendaraan yang mengangkut hasil kebun dari pedalaman ke pelabuhan, tapi hari Minggu lebih sepi seperti ini,” katanya sambil menyajikan secangkir kopi pahit yang hangat.

Perjalanan darat yang melalui berbagai kecamatan di Kabupaten Pali dan kemudian masuk ke wilayah Kabupaten Musi Banyuasin, melawati Kota Sekayu, baru lah akses lepas landas menuju Tanjung Jabung Barat. Perjalanan memakan waktu sekitar 8 jam, dan kita tiba di Kota Jambi di sekitar pukul 06:00 WIB di Terminal Alam Barajo Jambi.

Sayangnya, jadwal kapal yang tersedia sudah lewat sehingga saya terpaksa melanjutkan perjalanan ke Pelabuhan Tungkal pada pukul 10.30 WIB dan akhirnya bermalam dulu di sekitar pelabuhan.

Keesokan harinya, suasana pelabuhan yang masih dingin dan sepi, dengan suara gemericik air laut dan deru mesin kapal kecil yang sedang menunggu pelanggan, langsung menyambut saya.

Saya segera mencari kapten perahu yang telah saya hubungi sebelumnya – Pak Joko, seorang nelayan berpengalaman yang sering mengangkut penumpang antar pulau.

“Jalur hari ini diperkirakan cukup tenang setelah matahari muncul, tapi kita harus bersiap karena kadang ombak bisa berubah dengan cepat di jalur menuju Indragiri Hilir,” katanya sambil memeriksa mesin Speed Boat yang akan menjadi kendaraan saya selama beberapa jam ke depan.

Jam 10:30 WIB, tepat setelah matahari mulai muncul di ufuk timur, kita mulai berangkat dari pelabuhan.

Awalnya, Speed Boat melaju dengan mantap di atas permukaan laut, membawa saya menjauh dari daratan Jambi dan menuju hamparan air yang membentang luas menuju wilayah Riau.

Rute yang akan dilalui bukan hanya melewati tiga pulau kecil seperti yang direncanakan sebelumnya, tetapi juga beberapa titik persinggahan penting di sepanjang jalur: Sungai Guntung, Kuala Enok, dan Telok Lanjut, sebelum akhirnya mencapai Pulau Mendahara, Pulau Tebing Tinggi, dan Pulau Pasir Putih. Tujuan utama adalah sampai di Pulau Burung menjelang pukul 04:00 WIB keesokan harinya.

Setelah sekitar satu jam tiga puluh menit berlayar, kita singgah sebentar di kawasan beberapa Pulau yang di lalui ,untuk mengecek kondisi mesin dan mengambil bekal makan siang yang telah disiapkan oleh keluarga Pak Joko.

Di sinilah saya bertemu dengan beberapa nelayan yang sedang kembali dari menangkap ikan. “Kita sering singgah di sini untuk istirahat, karena arus di sini cukup tenang dan ada tempat yang bisa digunakan untuk beristirahat,” ujar Pak Joko sambil membersihkan bagian mesin Speed Boat.

Berikutnya, kita berhenti di Kuala Enok, sebuah kawasan pemukiman nelayan kecil yang terletak di bibir muara sungai.

Udara di sini segar dengan aroma rumput laut dan udang yang baru saja ditangkap. Saya menggunakan kesempatan ini untuk berbicara dengan Ibu Siti, seorang pedagang yang menjual makanan dan minuman bagi nelayan yang lewat.

“Banyak wartawan yang pernah singgah di sini, tapi tidak banyak yang mau melanjutkan perjalanan ke Pulau Burung karena jalurnya yang cukup sulit,” katanya sambil memberikan saya secangkir air kelapa muda yang segar.

Telok Lanjut, sebuah dermaga kecil yang menjadi tempat persinggahan kapal-kapal kecil sebelum melanjutkan perjalanan ke pulau-pulau terpencil.

Di sini, kita mengisi bahan bakar dan bertemu dengan beberapa pelaut yang akan pergi ke daerah sekitar Pulau Burung. Mereka memberikan informasi penting tentang kondisi arus dan ombak yang akan kita lalui di malam hari.

Setelah melewati Telok Lanjut sekitar satu jam kemudian, kita mencapai Pulau Mendahara. Namun, tidak lama setelah itu, matahari mulai bersembunyi dan suasana laut yang tadinya tenang tiba-tiba berubah.

Awan gelap mulai menyelimuti langit dari arah barat, dan ombak besar mulai muncul dengan cepat, memukul sisi Speed Boat dengan kekuatan yang cukup membuat badan saya terpental dari sisi ke sisi.

“Hati-hati, ikatkan barang bawaan Anda dengan kuat! Arus mulai bergeser ke arah selatan dan ombak semakin besar,” teriak Pak Joko sambil fokus mengendalikan kemudi dengan tangan yang mantap namun terlihat tegang.

Sensasi takut dan kegelisahan mulai merambah dada saya. Kamera yang saya pegang erat terasa semakin berat, dan saya terpaksa menyimpannya dengan hati-hati ke dalam tas kedap air yang saya bawa.

Setiap kali ombak besar memukul, perahu akan terangkat tinggi seperti sedang naik bukit sebelum jatuh kembali ke permukaan laut dengan bunyi gemuruh yang menggema.

Udara laut menyemprot ke wajah dan baju saya, membuat pandangan menjadi sedikit kabur.

“Ini adalah sensasi yang tidak bisa saya rasakan dari dalam ruangan kantor PD IWO Muara Enim – antara rasa takut akan bahaya dan kegembiraan karena menyaksikan kekuatan alam yang sungguh luar biasa di antara dua provinsi yang berbeda,” bisik saya dalam hati sambil mencoba tetap tenang dengan menggenggam pegangan yang ada di dalam perahu.

Pak Joko tetap tenang mengendalikan perahu, kadang menyemburkan kata-kata doa sambil menyesuaikan arah kemudi untuk menghindari ombak yang paling besar.

“Kita harus melewati jalur ini dulu yang menghubungkan Jambi dan Riau, setelah sampai di sekitar Pulau Tebing Tinggi yang berada di wilayah Indragiri Hilir, ombak akan lebih tenang karena terlindungi oleh gugusan pulau,” katanya dengan suara yang tetap stabil meskipun harus berteriak untuk terdengar di tengah deru ombak dan angin.

Setelah sekitar satu jam setengah menghadapi ombak besar, kita akhirnya memasuki kawasan yang lebih terlindungi di sekitar Pulau Tebing Tinggi, yang masuk dalam wilayah Kabupaten Indragiri Hilir, Riau.

Ombak menjadi lebih tenang, dan saya bisa bernapas lega sambil melihat hamparan daratan pulau yang hijau dan segar.

Kami berhenti di dermaga kecil yang terletak di sisi utara pulau untuk mengisi bahan bakar, mengambil air minum, dan sedikit beristirahat dari ketegangan yang baru saja dialami.

Di sinilah saya bertemu dengan Pak Saparudin, seorang pedagang keliling yang menjual kebutuhan pokok seperti beras, gula, dan minyak goreng ke berbagai pulau di wilayah Indragiri Hilir.

“Anda baru saja melewati jalur perbatasan Jambi-Riau yang paling berbahaya, terutama saat musim angin barat datang,” katanya sambil melihat kondisi Speed Boat kami.

“Hampir setiap hari, banyak perahu kecil yang harus berjuang dengan ombak di jalur ini – bagi kami yang tinggal di pulau-pulau kecil, ini adalah jalan hidup yang tidak bisa kita pilih.”

Sebelum melanjutkan perjalanan, kita singgah sebentar di Pulau Pasir Putih – sebuah pulau kecil yang hanya dihuni oleh beberapa keluarga nelayan yang bekerja di perikanan tangkap.

Pantai berpasir putih yang indah dan air laut yang jernih menjadi pemandangan yang menyegarkan setelah menghadapi ombak besar tadi.

Saya menggunakan waktu singkat ini untuk berbicara dengan penduduk lokal tentang kondisi kehidupan mereka dan harapan mereka terhadap pembangunan di wilayah Indragiri Hilir.

Mereka juga bercerita tentang bagaimana mereka harus berjuang setiap hari dengan kondisi laut yang seringkali tak terduga dan akses yang terbatas ke fasilitas dasar di daratan utama.

Setelah hampir seharian perjalanan laut, sebagian besar di antaranya penuh dengan ketegangan dan berbagai persinggahan – bentangan daratan Pulau Burung akhirnya muncul di kejauhan pada pukul 04:00 WIB sesuai dengan target yang telah ditentukan.

Pelabuhan kecil di pulau ini hanya terdiri dari beberapa tiang kayu yang ditancapkan ke dasar laut, namun menjadi pintu gerbang penting bagi penduduk untuk berhubungan dengan luar pulau di wilayah Indragiri Hilir.

Saya disambut oleh kepala desa dan beberapa warga yang telah menunggu sejak beberapa jam yang lalu setelah mendapatkan kabar dari Pak Joko bahwa saya akan tiba di pagi hari.

Kelelahan dan rasa lega bercampur ketika kaki saya kembali menyentuh daratan yang kokoh di wilayah Riau.

Awalnya saya berencana hanya menghabiskan tiga hari di sini, namun cerita-cerita yang saya temui begitu kaya dan kompleks sehingga saya memutuskan untuk memperpanjang tinggal waktu.

Hingga hari ini, saya masih berada di Pulau Burung, tinggal di rumah salah satu penduduk lokal yang dengan senang hati menerima saya sebagai tamu.

Setiap pagi dan sore, saya berjalan kaki menyusuri setiap sudut pulau untuk melihat kondisi langsung kehidupan masyarakat dan infrastruktur yang ada.

Mulai dari mengunjungi sekolah dasar yang hanya memiliki dua ruang kelas dan satu guru yang mengajar semua mata pelajaran, hingga mengamati sumber air bersih yang masih menjadi permasalahan utama bagi sebagian warga karena sumur yang ada seringkali mengering di musim kemarau.

Saya juga telah mengikuti aktivitas masyarakat dalam menangkap ikan dan merawat tambak udang yang menjadi sumber mata pencaharian utama mereka.

Setiap langkah yang saya tempuh, setiap orang yang saya temui, memberikan cerita baru yang penuh dengan makna dan pengalaman – sebuah penghargaan yang sebanding dengan ketegangan yang saya alami di jalur laut perbatasan tadi.

Saya telah mewawancarai kepala desa, petugas kesehatan lokal yang hanya datang ke pulau sekali seminggu, pemuka masyarakat, serta berbagai lapisan penduduk mulai dari anak muda hingga orang tua.

Setiap wawancara memberikan sudut pandang yang berbeda tentang kondisi pulau dan harapan mereka untuk masa depan.

Beberapa mengadu tentang kurangnya akses terhadap layanan kesehatan dan pendidikan yang memadai, sementara yang lain berbicara tentang potensi pariwisata alam dan perikanan budidaya yang belum tergarap dengan baik karena keterbatasan sarana transportasi.

Belum lagi cerita tentang tantangan mereka dalam menghadapi perubahan iklim yang membuat musim ikan menjadi tidak menentu.

Setiap malam, saya menghabiskan waktu di tepi pantai Pulau Burung, duduk di atas batu besar sambil melihat ombak yang terus menerus menyapu pantai.

Matahari terbenam memberikan warna keemasan pada langit dan permukaan laut yang membentang antara Riau dan Jambi, menciptakan pemandangan yang memesona namun juga membuat saya merenung tentang makna perjalanan jurnalistik yang saya lakukan sejak berangkat pada malam Minggu, 04 Januari 2026.

Sensasi ketakutan dan kegembiraan yang saya rasakan saat menghadapi ombak besar di jalur perbatasan provinsi, serta momen-momen persinggahan di setiap titik sepanjang perjalanan, menjadi pengingat bahwa sebagai wartawan dari PD IWO Muara Enim, terkadang kita harus keluar dari zona nyaman dan menempuh jalur yang sulit untuk mendapatkan cerita yang sebenarnya.

Bahkan hingga hari ini, saya masih menemukan cerita baru yang layak untuk dicatat dan disampaikan kepada khalayak luas.

Setiap perjalanan yang saya tempuh tidak hanya untuk mendapatkan berita, tetapi juga untuk memahami lebih dalam tentang kehidupan orang lain di berbagai wilayah, menghargai perubahan kondisi dan harapan mereka, serta menyadari bahwa setiap daerah – baik di daratan maupun di pulau-pulau terpencil – memiliki cerita yang layak untuk disampaikan.

Sebagai wartawan dari PD IWO Muara Enim, saya merasa memiliki tanggung jawab untuk menjadi jembatan antara masyarakat di pelosok daerah dengan dunia luar, untuk menyampaikan suara mereka yang seringkali tidak terdengar.

Saya belum bisa menentukan kapan akan kembali ke Muara Enim, karena masih banyak cerita yang perlu saya gali dan dokumentasikan dengan seksama agar dapat memberikan gambaran yang utuh tentang kehidupan di Pulau Burung.

Setiap pagi saya bangun bersama penduduk lokal, membantu mereka dalam aktivitas sehari-hari sambil terus mengumpulkan informasi dan mengabadikan momen-momen penting dengan kamera saya.

Speed Boat milik Pak Joko sudah beberapa kali datang untuk menanyakan kapan saya akan kembali ke Pelabuhan Tungkal, bahkan pernah menawarkan untuk mengantar saya kembali melalui jalur yang sama dengan persinggahan di Sungai Guntung, Kuala Enok, dan Telok Lanjut, tapi saya selalu menjawab bahwa saya perlu waktu lebih lama untuk menyelesaikan pekerjaan ini.

Hingga hari ini, puluhan catatan tulisan tangan sudah terisi, ratusan foto telah saya ambil, dan beberapa rekaman wawancara juga telah saya simpan dengan baik.

Pikiran saya terus bekerja untuk menyusun bagaimana cara menyajikan semua cerita ini – mulai dari perjalanan darat yang panjang, persinggahan di berbagai titik sepanjang jalur laut, hingga kehidupan masyarakat di Pulau Burung – dengan cara yang terbaik agar dapat memberikan pemahaman yang lebih dalam kepada pembaca tentang kehidupan masyarakat di pulau-pulau terpencil di wilayah Riau.

Meskipun rindu akan kantor PD IWO Muara Enim dan keluarga di Muara Enim, saya tahu bahwa setiap hari yang saya habiskan di sini akan memberikan nilai tambah bagi setiap tulisan yang saya hasilkan nantinya. (DW)

banner 336x280

Tentang Penulis: Redaksi

Gambar Gravatar
Wartawan Asal Provinsi Sumatera Selatan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *