Kelangkaan Bensin Melanda Semende Raya Harga Pengecer Tembus Rp 20.000 Per Liter, Warga & Petani Terpukul

oleh
oleh

MUARA ENIM, Tipikorinvestigasi.id – Warga di tiga kecamatan yang dikenal sebagai Semende Raya Kecamatan Semende Darat Ulu, Semende Darat Tengah, hingga Semende Darat Laut, Kabupaten Muara Enim dilanda keluhan serius terkait kelangkaan bahan bakar minyak jenis bensin.

Tidak hanya sulit didapatkan di stasiun pengisian bahan bakar, harga di tingkat pengecer eceran pun melonjak jauh melampaui Harga Eceran Tertinggi, bahkan mencapai angka Rp 20.000 per liter.

banner 336x280

Keluhan ini sudah dirasakan masyarakat sejak dua minggu terakhir dan dampaknya kini terasa menyeluruh di berbagai sendi kehidupan warga.

Kelangkaan ini terlihat nyata di lapangan. Pantauan di tiga SPBU wilayah Semende menunjukkan antrean kendaraan roda dua maupun roda empat sudah mengular sejak pukul 06.00 WIB pagi, namun banyak warga yang akhirnya pulang dengan tangan kosong karena kehabisan stok.

Seperti diungkapkan Rido, warga Desa Cahaya Alam, Kecamatan Semende Darat Ulu: “Sudah tiga hari terakhir saya tidak bisa mengisi bensin di SPBU terdekat.

Antre sampai dua jam, giliran sampai depan malah dibilang stok habis. Kami yang tinggal di wilayah Semende ini jadi korban keadaan,” ujarnya di depan Gudang Gani, Rabu siang.

Karena sulit mendapatkan bensin di SPBU, warga terpaksa membeli di pengecer eceran dengan harga yang jauh lebih mahal berkisar antara Rp 18.000 hingga Rp 20.000 per liter, angka yang jauh melampaui ketentuan harga yang berlaku.

Krisis ini langsung memukul perekonomian masyarakat Semende Raya, yang sekitar 90 persen menggantungkan hidup dari perkebunan kopi dan sawit.

Biaya operasional pengangkutan hasil panen meningkat tajam karena harga bahan bakar yang melambung tinggi.

Dampak juga merambah ke dunia pendidikan: banyak siswa yang harus menempuh perjalanan 15 hingga 30 kilometer ke sekolah kini terlambat atau bahkan tidak bisa berangkat karena kesulitan mendapatkan bensin.

Sektor transportasi umum pun ikut terdampak pengemudi ojek dan angkutan desa terpaksa menaikkan tarif antara Rp 5.000 hingga Rp 10.000 per perjalanan untuk menutupi kenaikan biaya bahan bakar.

Merespons meluasnya keluhan masyarakat, Rahman, salah satu anggota DPD JPKP Kabupaten Muara Enim, menyampaikan kekhawatiran sekaligus peringatan keras.

“Ini sudah masuk kategori darurat. Jika selama satu bulan ke depan kondisi ini terus berlanjut, pengangkutan hasil panen kopi dari ladang akan terganggu karena bensin sulit didapat dan harganya mencapai Rp 18.000 hingga Rp 20.000 per liter dampaknya sangat berat bagi masyarakat.

Kami mendesak pemerintah dan dinas terkait segera mencari solusi demi kesejahteraan warga Semende Raya,” ujarnya.

Ia juga memperingatkan tegas pihak-pihak yang terbukti menimbun barang atau menjual di atas ketentuan Harga Eceran Tertinggi.

“Hal tersebut merupakan pelanggaran berat. Kami akan menindak tegas berdasarkan UU No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen Pasal 8 serta UU No. 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi Pasal 53.

Ancaman hukumannya dapat mencapai penjara 5 tahun dan denda hingga Rp 60 miliar,” tegasnya.

(Pendim_0404/Muara Enim)
Penulis Editor Pewarta Sumsel

banner 336x280

Tentang Penulis: Redaksi

Gambar Gravatar
Wartawan Asal Provinsi Sumatera Selatan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.