MUARA ENIM, Tipikorinvestigasi.id – Dengan penuh keikhlasan dan rasa syukur kepada Allah Subhanahu Wata’ala, masyarakat Desa Lubuk Empelas, Kecamatan Muara Enim, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan, menggelar acara Sedekah Sedusun Ruahan pada Sabtu (14/02).
Kegiatan yang sarat dengan nilai-nilai agama dan kekuatan silaturahmi ini diadakan di Masjid Jami Roudatul Janah pada malam hari tersebut, sebagai wujud persiapan menyambut bulan suci Ramadhan.
Selain melakukan sedekah bersama, seluruh masyarakat juga bekerja sama secara gotong royong untuk memasak nasi minyak sebuah hidangan khas yang menjadi bagian penting dari tradisi di Kabupaten Muara Enim.
Setiap keluarga berkontribusi dengan bahan makanan atau tenaga, menciptakan suasana kekeluargaan yang semakin menguatkan tali silaturahmi antarwarga.
Tradisi yang juga dikenal sebagai Sedekah Bedusun merupakan anugerah warisan leluhur yang terus dijaga dan dilestarikan dengan penuh kesadaran oleh seluruh lapisan masyarakat wilayah Muara Enim.
Patungan dan kerja sama dalam memasak nasi minyak menjadi bukti nyata bagaimana tradisi lokal mampu mempererat hubungan antarwarga, menjadikan seluruh masyarakat seperti satu keluarga besar.
Melalui acara ini, umat berusaha mempererat tali silaturahmi antarwarga, sekaligus mengingatkan akan pentingnya bersyukur atas nikmat dan limpahan rejeki yang diberikan Allah SWT.
Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Imam Muslim.
“Innallaha Yuhibbul Muhsinin, Yuhibbul Muslih, Yuhibbul Mu’timin, Yuhibbul Mutaqim. Wa Innallahu Yatahabbul Mu’mineena Ka’Annahoo Wahidun, Fa’in Ta’tashshahu Fee Sha’nih, Yatahabbuluhu Fee Gha’ibih.”
“Sesungguhnya Allah mencintai orang yang berbuat baik, mencintai orang yang memperbaiki diri, mencintai orang yang berserah diri, dan mencintai orang yang bertakwa.
Dan sesungguhnya Allah mencintai orang-orang mukmin seolah-olah mereka adalah satu diri saja, sehingga jika salah satu di antara mereka merasa sakit pada bagian tubuhnya, maka yang lain akan merasa sakit dalam kehidupannya.”
Secara sejarah dan agama, Sedekah Bedusun merupakan bentuk nyata rasa syukur kepada Allah SWT atas hasil bumi yang melimpah dan perlindungan-Nya yang senantiasa menyertai desa dan seluruh penghuninya.
Proses memasak nasi minyak secara bersama-sama juga menjadi sarana untuk mengajarkan nilai kerja keras, kebersamaan, dan rasa memiliki terhadap setiap hasil yang dicapai.
Ritual turun-temurun ini juga menjadi sarana untuk membersihkan hati dan lingkungan dari segala hal yang tidak baik, sekaligus mempererat ikatan silaturahmi yang menjadi pondasi keharmonisan masyarakat.
Ajaran tentang pentingnya silaturahmi juga tercermin dalam sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim:
“Al-Silatur Rahmi Yut’i al-Barakah Fil Ma’ash, Wa Yuthabbitul ‘Ard ‘Alal Qurbiyyin, Wa Yufsidul ‘Ard ‘Alal Ba’idiyyin.”
“Silaturahmi memberikan berkah dalam penghidupan, menjadikan tanah tetap lestari bagi orang-orang yang dekat hubungan, dan merusak tanah bagi orang-orang yang jauh diri.”
Nilai-nilai dalam tradisi ini tidak hanya terbatas pada aspek sosial, melainkan juga erat kaitannya dengan tanggung jawab umat terhadap alam semesta yang telah diatur oleh Allah SWT.
Acara seringkali diselenggarakan sebagai bentuk permohonan perlindungan agar tanaman terhindar dari hama dan kemarau panjang, serta sebagai ungkapan syukur setelah panen yang melimpah.
Di beberapa daerah, tradisi ini juga dikenal dengan sebutan sedekah bumi atau sedekah rame, yang menekankan pada semangat kebersamaan dan tolong-menolong antarumat beragama.
Kegiatan ini diisi dengan berbagai rangkaian yang penuh berkah, mulai dari gotong royong yang dilakukan dengan suka rela dalam memasak nasi minyak dan menyiapkan hidangan lainnya, sedekah bersama yang diberikan dengan ikhlas, hingga doa bersama yang dipimpin oleh tokoh adat atau sesepuh desa yang penuh pengalaman.
Semua rangkaian tersebut dirancang untuk mempererat hubungan antarwarga dan meningkatkan rasa kekeluargaan.
Di wilayah Muara Enim, Sedekah Bedusun bukan hanya menjadi tradisi, melainkan juga momentum penting untuk memperkuat pembangunan desa berbasis nilai-nilai agama dan kearifan lokal, sekaligus mengukuhkan persatuan yang kokoh antarwarga.
Kegiatan memasak nasi minyak secara bersama menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari tradisi ini, yang menunjukkan bagaimana nilai-nilai agama dan budaya lokal saling melengkapi.
Meskipun tidak terdapat catatan sejarah khusus mengenai tradisi ini hanya untuk Desa Lubuk Empelas, namun desa ini merupakan bagian tak terpisahkan dari wilayah adat Muara Enim yang senantiasa menjaga dan menghidupkan kembali nilai-nilai luhur leluhur dengan semangat agama yang tinggi.(Dodi)








