MUARA ENIM, Tipikorinvestigasi.id – Kegiatan bidar tradisional yang telah menjadi bagian dari khasanah budaya lokal berlangsung meriah selama dua hari berturut-turut, berakhir pada hari Minggu (08/02/2026) di Danau Cecho, Desa Muara Lawai, Kecamatan Muara Enim, Kabupaten Muara Enim.
Acara yang digelar secara kolaboratif ini diikuti oleh total 38 peserta laki-laki yang berasal dari dua kabupaten berbeda, yaitu Kabupaten Lahat dan Kabupaten Muara Enim.
Peserta yang mengikuti ajang ini merupakan perwakilan dari berbagai kecamatan dan desa yang memiliki hubungan erat dalam aktivitas sosial dan ekonomi.
Dari Kecamatan Merapi Timur sendiri, ada perwakilan dari empat desa yang berbeda, Sementara itu, Desa Muara Lawai sebagai tuan rumah.
Selain itu, partisipasi juga datang dari Kecamatan Gunung Kembang dengan mewakili desa-desa Prabu Menang, Arahan, dan Banjar Sari, yang menunjukkan dukungan yang luas terhadap kegiatan tradisional yang telah ada sejak lama ini.
Dalam kesempatan tersebut, Kepala Desa Muara Lawai, Edi Wanseri, menyampaikan pidato yang penuh makna kepada seluruh peserta dan undangan yang hadir.
“Kegiatan bidar tradisional ini bukan hanya sekadar ajang bersenang-senang atau mempertahankan warisan budaya dari leluhur kita, tetapi memiliki makna yang lebih dalam bagi kemajuan masyarakat,” ucapnya dengan penuh semangat.
Menurut Edi Wanseri, salah satu tujuan utama dari pelaksanaan acara ini adalah untuk memperkuat tali silaturahmi yang telah terjalin erat antara warga dari berbagai daerah, bahkan antar kabupaten.
“Kita hidup dalam satu wilayah dengan potensi dan kebutuhan yang saling melengkapi.
Melalui kegiatan seperti ini, kita dapat mempererat hubungan persaudaraan, menghilangkan kesenjangan yang mungkin ada, dan membangun sinergi yang bermanfaat bagi semua pihak,” jelasnya.
Selain sebagai ajang silaturahmi, Edi menekankan bahwa kegiatan ini juga dirancang sebagai kesempatan emas bagi para peserta untuk mencari dan bertukar informasi mengenai bibit unggul yang dapat mendukung pengembangan usaha maupun sektor pertanian lokal.
“Kita tahu bahwa banyak masyarakat kita yang bergantung pada hasil bumi dan usaha kecil.
Akses terhadap bibit yang berkualitas dan sesuai dengan kondisi lahan di daerah kita sangat penting untuk meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan keluarga.
Melalui pertemuan ini, para peserta dapat bertukar pengalaman, berbagi sumber daya, dan bahkan menjalin kerja sama dalam pemasaran hasil produksi nantinya,” tambahnya.
Tak hanya itu, Kepala Desa juga mengimbau seluruh peserta untuk selalu menjunjung tinggi nilai-nilai sportivitas selama mengikuti kegiatan, serta menjaga kebersihan dan keamanan di sekitar lokasi acara.
“Danau Cecho adalah salah satu aset alam yang kita miliki bersama, jadi kita harus menjaganya dengan baik agar tetap bisa menjadi tempat berkumpul dan beraktivitas bagi generasi mendatang.
Selain itu, saya juga berharap bahwa manfaat dari kegiatan ini tidak hanya dirasakan saat acara berlangsung, tetapi dapat memberikan dampak jangka panjang dalam bentuk kerja sama yang konkret antara desa-desa dan antar kabupaten,” tandasnya.
Acara yang diisi dengan berbagai sesi mulai dari kegiatan bidar itu sendiri, diskusi tentang potensi bibit lokal, hingga sesi silaturahmi bersama ini mendapatkan sambutan positif dari seluruh peserta.
Banyak yang menyampaikan harapan agar kegiatan serupa dapat diadakan secara berkala untuk terus memperkuat hubungan antar masyarakat dan mendorong perkembangan ekonomi lokal. (DW).










