Muara Enim, Tipikorinvestigasi.id – Pembangunan infrastruktur seharusnya menjadi wajah kemajuan dan penunjang kesejahteraan, namun kenyataan di lapangan berbicara lain. Ruas jalan strategis penghubung Palembang–Prabumulih–Muara Enim–Baturaja justru berubah menjadi jalur maut yang menakutkan. Minggu (07/06/2026).
Proyek perbaikan yang seharusnya membawa manfaat, kini meninggalkan tanya besar di benak setiap warga: kapan pekerjaan ini benar-benar selesai, dan berapa lagi nyawa rakyat yang harus menjadi tumbal sebelum jalan ini benar-benar aman?
Meski pemerintah terus menggencarkan pembangunan, pelaksanaannya terlihat sembarangan dan tak berhati nurani.
Jalan rusak digali di sana-sini, dibiarkan menganga tanpa penutup, tanpa rambu peringatan, serta tanpa pengamanan yang memadai.
Kelalaian fatal ini secara langsung mengancam keselamatan seluruh pengguna jalan, terutama pengendara sepeda motor kelompok terbanyak, paling rentan, dan kerap kali menjadi pihak yang paling menderita.
Keprihatinan ini bukan tanpa alasan nyata. Sebagaimana diunggah akun Ekspres, sebuah kecelakaan tunggal terjadi di Desa Panang Jaya, Kecamatan Gunung Megang.
Peristiwa tragis ini dipicu saat pengendara terperosok dan terjebak pada bagian jalan yang sedang dikeruk untuk perbaikan.
Akibatnya, dua nyawa melayang seketika di lokasi kejadian, sebuah bukti pahit bahwa kelalaian pengamanan telah berubah menjadi senjata pembunuh diam-diam.
“Kapan lah pulo jalan yang dilubangi itu ditambal lagi?” teriak warga dalam keluhan yang mewakili amarah dan keprihatinan bersama.
Pertanyaan sederhana ini menuntut jawab, mengapa pekerjaan jalan berjalan lambat, serampangan, dan seolah tak ada yang bertanggung jawab atas keselamatan publik,.?
Suara keras penolakan juga datang dari netizen, Eldo Pratama, yang mewakili rasa kecewa mendalam masyarakat.
“Sudah ku duga proyek dak jelas dak kate akal, gali-gali bae tutop idak ada rambu-rambu. Kalu galak gali iyo langsong di totop di benari, ini idak gali kapan nutopnyo kapan.
” Komentar ini telah dibagikan 5 kali dan disukai lebih dari 200 orang, membuktikan bahwa kekecewaan ini dirasakan oleh banyak pihak.
Sebagai insan pers yang turut merasakan dampak dan menyaksikan langsung kondisi di lapangan, kami menegaskan satu hal tegas.
lonjakan angka kecelakaan lalu lintas belakangan ini memiliki hubungan sebab-akibat yang sangat jelas dengan pola kerja pembangunan jalan yang asal jadi, tambal sulam, dan tanpa perencanaan keselamatan yang matang.
Jalan digali, dibiarkan berlubang dan rusak berbulan-bulan, namun penyelesaian tak kunjung jelas, sementara rambu peringatan nyaris tak ada.
Ruas yang seharusnya memperlancar mobilitas ekonomi, kini justru berubah menjadi jebakan maut yang siap menelan siapa saja yang lewat.
Ketidakpedulian ini memicu gelombang protes tersembunyi di kalangan masyarakat.
Ironisnya, setiap kali musibah terjadi, yang menjadi korban selalu rakyat kecil, mereka yang mengandalkan jalan ini untuk mencari nafkah, pulang menemui keluarga, dan menjalani hidup sehari-hari.
Kami tidak menolak pembangunan. Kami sangat mendukung upaya pemerintah memajukan infrastruktur di setiap daerah.
Namun, ada satu pertanyaan mendasar yang harus dijawab: apakah pemerintah pernah benar-benar menempatkan keselamatan manusia sebagai prioritas utama,.?
Mengapa nasib pengendara roda dua, yang merupakan mayoritas pengguna jalan, seolah dianggap remeh dan bisa dikorbankan demi kepentingan proyek yang tak kunjung selesai,.?
Harus dipahami dengan tegas: masyarakat itu bukan hanya butuh perbaikan infrastruktur namun juga keselamatan dan kesejahteraan. Pembangunan yang mengorbankan nyawa bukanlah kemajuan, melainkan kejahatan terselubung.
Kejadian yang merenggut dua nyawa ini seharusnya menjadi tamparan keras dan pelajaran mahal: hentikan cara kerja serampangan! Pembangunan harus terencana, tuntas, dan penuh tanggung jawab, bukan sekadar tambal sulam yang menyisakan bahaya.
Untuk itu, kami mengajak segenap elemen bangsa: mari rekan-rekan wartawan, ormas, LSM, dan pemerhati lingkungan, kita suarakan bersama Kita gugah hati pemerintah dan seluruh pelaksana proyek agar segera sadar, bahwa keselamatan dan nyawa banyak orang jauh lebih berharga daripada sekadar target fisik pembangunan.
Jangan biarkan pembangunan menjadi alasan yang membenarkan hilangnya nyawa rakyat.
Kami menuntut tegasan setiap pekerjaan perbaikan jalan wajib dilengkapi rambu peringatan yang jelas, penerangan yang cukup, pengamanan ketat, serta jadwal penyelesaian yang pasti. Jangan menunggu korban semakin banyak berjatuhan sebelum langkah nyata diambil. Keselamatan tidak bisa ditawar.
Penulis Editor Pewarta Sumsel








