Payakumbuh, Tipikorinvestigasi.id – Demi menjaga tanah ulayat nagari, yang merupakan warisan leluhur, Niniak Mamak Nagori Koto Nan Ompek yang dipimpin Ketua Kerapatan Adat Nagari (KAN) menyatakan kesepakatan untuk menolak Sertifikat Hak Pakai (SHP) Pasar Payakumbuh.
Rapat yang dipimpin oleh Ketua KAN Koto Nan Ompek Datuak Rajo Sinaro di Balai Adat Nan Duo hari Sabtu (25/7/2026) ini, dihadiri hampir 100 orang yang terdiri dari Niniak Mamak, Alim Ulama, Cadiak Pandai, Bundo Kanduang dan Pemuda Parik Paga Nagari.
Tokoh-tokoh nagori tampak hadir lengkap dalam rapat, antara lain Buya H. Maharnis Zul, Almaysar Dt. Bangso Nan Kuniang, Adrian Danus (An Lurah), Jack Peto, Dt. Simarajo Nan Capuak, Datuak Rajo Mantiko Alam (Ka Ompek Suku Urang Sambilan), Datuak Bandaro Hitam (Ka Ompek Suku Urang Ompek Niniak) yang hadir melalui Video Call, Anton Raymonde Datuak Bangso Di Rajo Nan Putiah, Ir. Teddy Rahmad Datuak Rajo Mangkuto dan Datuak Simarajo Lelo.
Kata Ketua KAN Datuak Rajo Sinaro, kalau salah di ujung jalan maka kembalilah ke pangkal jalan. Karena itulah kini seluruh Niniak Mamak Koto Nan Ompek bersama anak nagori duduk bersama dan bersatu untuk mendukung gugatan terhadap SHP Pasar Payakumbuh yang kini tengah berlangsung di PTUN Padang.
Tidak ada lagi Niniak Mamak yang terbelah di Koto Nan Ompek. Semua satu suara, sadanciang bak basi, saciok bak ayam dalam memberi dukungan penuh untuk menolak SHP atas nama Pemko Payakumbuh karena tanah pasar adalah tanah ulayat nagori.
“Kita tidak menolak pembangunan Pasar Payakumbuh, malah sangat mendorong menjadi pasar modern dan megah. Namun status tanah tetap harus sebagai tanah ulayat nagari, karena pemerintah juga telah mengakui adanya sertifikat tanah ulayat atau komunal,” kata Ketua KAN Datuak Rajo Sinaro.
Dalam rapat hadir memberikan pencerahan kuasa hukum Niniak Mamak Koto Nan Ompek dalam menolak dan menggugat SHP Pasar Payakumbuh di PTUN Padang yaitu Dr. Wendra Yunaldi, SH.,MH., yang tidak lain adalah pakar hukum adat Universitas Muhammadyah Sumbar.
Penolakan Niniak Mamak ini bukan tanpa alasan. Ada empat poin krusial menjadi landasan sikap tegas Niniak Mamak dan Anak Nagori Koto Nan Ompek menolak terbitnya SHP Pasar Payakumbuh.
Pertama, SHP akan menghapus bukti kepemilikan ulayat yang sejajar secara hukum. Tanpa bukti resmi di BPN, hak ulayat hanya akan tinggal sebagai sebutan belaka.
Kedua, jasa pemanfaatan tanah ulayat tidak jelas dan tidak memberi manfaat pasti bagi Anak Nagari. Pengalaman selama ini nagori tidak menerima apa-apa dari pemanfaatan tanah ulayat Pasar Payakumbuh.
Ketiga, Niniak Mamak menilai adanya itikad tidak baik yang berbarengan dengan lahirnya Ranperda Pasar yang jelas akan menghapus hak ulayat dari masyarakat adat.
Keempat, tak ada instrumen hukum yang memungkinkan masyarakat adat mengawasi atau meminta pertanggungjawaban Pemko Payakumbuh atas penggunaan tanah ulayat nagari tersebut.
“Dalam Perda Payakumbuh No.13 Tahun 2016 mewajibkan musyawarah mufakat yang dituangkan dalam Akta Autentik Notaris untuk pemanfaatan tanah ulayat nagori. Fakta yang terjadi kesepakatan hanya berupa surat pernyataan dan tanda tangan pejabat dan bukan perjanjian yang mengikat secara hukum,” kata Dr. Wendra Yunaldi, SH.MH., yang juga mantan Dekan Fakultas Hukum UMSB.
Menurut Dr. Wendra Yunaldi, SH.,MH., dalam persidangan di PTUN Padang satu persatu fakta kebenaran terungkap adanya dugaan perbuatan melawan hukum, manipulatif tanda tangan dan trik administrasi lainnya dalam proses penerbitan SHP Pasar Payakumbuh.
Dihadapan puluhan Niniak Mamak, Bundo Kanduang, dan perwakilan Anak Nagari, rapat di Balai Adat Nagori Koto Nan Ompek ini melahirkan tekad bahwa anak nagori bersatu menjaga tanah ulayat, tidak mau dipecahbelah dan diadu domba, dan tidak akan menyerahkan warisan leluhur kepada siapapun tanpa kepastian hukum yang adil.
Niniak Mamak Koto Nan Ompek Datuak Simarajo Lelo mengaku gembira dan menyambut baik atas bersatunya Niniak Mamak, dan kembalinya Niniak Mamak yang dulunya sempat berseberangan pendapat menyikapi konflik tanah ulayat Pasar Payakumbuh. (*)








