Tau nggak apa yang tengah menjadi sorotan di tanah suci Mesir Seorang gadis dari ujung barat Nusantara, dengan akar budaya Minang yang kental, tampil dengan ketenangan yang luar biasa sebagai perwakilan pidato wisudawan di salah satu lembaga keilmuan paling bergengsi di dunia.
Namanya Yeli Putriani alumni Thawalib Parabek dan putri Kampung Siti Manggopoh, Kecamatan Lubuk Basung, Kabupaten Agam, Sumatera Barat yang kini menjadi bukti bahwa ilmu dan iman bisa membawa anak negeri menjelajah dunia tanpa harus meninggalkan jati diri.
Bukan hanya karena dipercaya menjadi suara jutaan mahasiswa dalam pidato wisuda, prestasi Yeli jauh sebelum itu telah mencuri perhatian.
Pada tahun 2022, ia berhasil meraih Juara Pertama Tahfiz Qur’an se-Mesir sebuah pencapaian yang tidak mudah diraih di negeri yang dikenal sebagai rumah bagi ribuan hafizh dan hafizhah terbaik dunia.
Artinya, yang berdiri dengan gagah di atas podium bukan sekadar mahasiswi berprestasi secara akademik, melainkan seorang hafizhah yang menjadikan Al-Qur’an sebagai landasan setiap langkahnya, di mana ilmu pengetahuan dan akhlak mulia tumbuh bersamaan seperti dua sisi mata uang yang tak terpisahkan.
Ayat-ayat suci yang telah lama ia hafal dengan penuh khusyuk tidak hanya tinggal sebagai hafalan di dalam dada.
Ia membawa nilai-nilai yang terkandung di dalamnya untuk menghiasi mimbar Al-Azhar
lembaga yang telah berdiri selama lebih dari seribu tahun sebagai jantung peradaban ilmu Islam dunia.
Di sanalah, suara dari kampung kecil di tanah air bersanding dengan suara-suara terbaik dari berbagai penjuru bumi, membuktikan bahwa keunggulan tidak mengenal batas geografis atau latar belakang.
Saya sendiri pernah merasakan getaran kebanggaan ketika berdiri di atas podium wisuda sebagai perwakilan mahasiswa Pascasarjana UIKA pada tahun 2014.
Saat itu, saya merasakan betapa beratnya tanggung jawab untuk menjadi suara teman-teman sekaligus kebanggaan bagi keluarga dan kampung halaman.
Maka bisa dibayangkan, betapa dalam makna yang terkandung ketika seorang anak dari kampung terpencil bisa berdiri di panggung dunia yang dinanti-nantikan oleh jutaan cendekiawan di seluruh penjuru bumi.
Di Mesir. Di Al-Azhar. Di tengah peradaban yang telah melahirkan ribuan tokoh besar peradaban.
Jelaslah, prestasi yang diraih Yeli bukan sekadar pencapaian pribadi atau bahkan kebanggaan daerah semata.
Ini adalah sebuah pesan sunyi namun sangat kuat bagi seluruh anak bangsa bahwa anak kampung, jika diberikan kesempatan dan memanfaatkannya dengan penuh ketekunan, serta selalu menjunjung tinggi iman dan nilai-nilai luhur, mampu berdiri sejajar dengan siapapun di kancah dunia tanpa harus kehilangan akar budaya dan jati diri sebagai anak Indonesia.
Alhamdulillah. Kebanggaan yang kita rasakan tidak hanya karena dia adalah putri terbaik dari tanah Minang yang dikenal dengan motto “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah”.
Lebih dari itu, kita bangga sebagai bagian dari umat Rasulullah SAW yang terus menunjukkan bahwa keunggulan bukan milik satu bangsa atau satu daerah saja, melainkan milik semua orang yang bersungguh-sungguh mengejar ilmu dan kebaikan.
Yeli adalah bukti bahwa dari pelosok negeri, kita bisa bersinar di kancah dunia.








