LONCENG BULGARIA DAN TITIK DIDIH KITA

oleh
oleh

Oleh: *Ki Edi Susilo*
Penikmat Kopi Hitam dengan sedikit Gula

​SEJARAH tak pernah benar-benar tidur. Ia hanya menunggu momentum untuk bangun dan mengoreksi keserakahan. Apa yang terjadi di *Bulgaria pada Desember 2025* adalah surat kaleng dari masa depan yang mampir ke meja kekuasaan kita.

banner 336x280

​Jatuhnya rezim di Sofia di tangan Martin Atanassov “seorang remaja 18 tahun” bukanlah drama politik biasa. Itu adalah ledakan katup pengaman yang tersumbat korupsi dan anggaran yang pongah. Bagi penguasa di Jakarta, peristiwa Bulgaria adalah cermin retak. Jangan pernah merasa aman di balik barikade kekuasaan jika rasa adil di hati rakyat sudah kadung mati.

*​Normalisasi Pembungkaman*

​Laporan Amnesty International soal vonis praperadilan Delpedro dkk pada Oktober 2025 menjadi noktah hitam yang pekat. Menormalisasi pembungkaman aktivis Gen Z dengan pasal-pasal karet adalah kekeliruan fatal. Tatkala negara menyeret suara-suara kritis seperti Laras dan Delpedro ke meja hijau, negara sebenarnya sedang menyusun bata demi bata altar bagi lahirnya martir baru. Hukum yang ditekuk untuk melayani kekuasaan hanyalah sumbu pendek bagi revolusi.

*​Solidaritas Pink-Hijau*

​Tengoklah jalanan. Simbol merah muda, hitam, dan hijau yang menjalar bukan sekadar urusan estetika busana. Itu adalah kode etik perlawanan. Warna-warna itu mengikat solidaritas lintas kelas. dari pengemudi ojek online yang merasa “dilindas” kebijakan nir-empati pada Agustus lalu, hingga mahasiswa yang muak melihat hutan adat di Papua dan Aceh ditebang demi syahwat investasi.

​Slogan *”Semakin Ditindas, Semakin Melawan”* kini menjadi doktrin sosiologis yang organik. Gen Z adalah gerakan rhizomatic merambat seperti akar rimpang, tanpa pusat, namun menjalar ke mana-mana. Mereka tak butuh komandan tunggal, mereka digerakkan oleh *satu rasa muak yang kolektif*. Menangkap satu kepala hanya akan menumbuhkan seribu kepala baru yang lebih militan.

*​Adil atau Tumbang*

​Pemerintahan Prabowo-Gibran harus segera berbenah. Keserakahan atas lahan agraria, perusakan ekologi, dan kriminalisasi anak muda adalah bahan bakar yang sempurna bagi api revolusi. Gen Z Indonesia bukan penonton pasif. Mereka adalah pencatat ketidakadilan dalam memori digital yang abadi.

​Jangan paksa lonceng revolusi berdentang lebih keras di tanah air. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat termasuk mereka yang “muda dan berisik” adalah satu-satunya jangkar yang tersisa. Tak ada opsi lain.
​Sebab, *kekuasaan yang rakus tak ubahnya ampas kopi yang tertinggal di dasar cangkir, pahit, hitam, dan pada akhirnya akan dibuang*. Jika keadilan tak segera ditegakkan, pemerintahan ini hanya sedang menunggu waktu hingga “kafein” amarah Gen Z memuncak dan jantung kekuasaan berdegup terlalu kencang untuk bertahan.

*Berbuat adillah sekarang, sebelum amarah mereka menyeduh revolusi yang jauh lebih pekat dari kopi mana pun yang pernah Anda cicipi.*

(Batavia, 26 Desember 2025)

banner 336x280

Tentang Penulis: Redaksi

Gambar Gravatar
Wartawan Asal Provinsi Sumatera Selatan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.